Manusia boleh pandai setinggi langit, selama dia tidak menulis
akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. 
Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer-

buih di lautan luas

Click here to edit subtitle

Blog

view:  full / summary

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2014

Posted by herdhika ayu on November 25, 2014 at 7:05 PM Comments comments (0)

Untuk para guru-guru seluruh Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya di dunia mengajar selama bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan pamrih.

 

Buat bapak saya yang juga guru Matematika (dulu)

 

Buat bapak teman saya Meidya Laksmi Ariyanti yang juga berprofesi guru

 

Dan teman-teman saya yang sudah jadi guru atau calon guru

 

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2014 :)

Dalam renungan hujan sore ini , terlintaslah di pikiran saya kenangan tentang para guru-guru saya dari TK sampai SMA yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan. Tapi ini semua kebanyakan pengakuan dosa saya kepada guru-guru tercinta saya, hehe. Maafkan saya pak, bu. Semoga bapak ibu selalu sehat, lancar dan sukses dimanapun bapak ibu guru berada. Terimakasih atas segala ilmu, nasehat, canda tawa yang bapak ibu berikan kepada saya, mungkin hanya Tuhan yang bisa membalas jasa-jasa bapak ibu semua.

 

This story for you , my lovely teachers ;)

1. Dulu saat saya duduk di sekolah dasar (SD) saya punya guru favorit bernama pak Narto (sekarang sudah almarhum :( , semoga tenang di alam sana ya pak), mungkin tidak hanya saya saja yang memfavoritkan beliau, tapi hampir semua anak menyukai pak Narto, kalau dulu ada award buat Favourite Teacher pasti deh pak Narto menang karena banyaknya fans yang pasti memilih beliau. Beliau adalah guru IPA yang sabar dan lucu, pintar menggambar, membuat patung dan pokoknya kesenian beliau jago banget. Hampir semua patung hiasan di SD saya hasil kreasi dari pak Narto, dan beliau sama sekali nggak pernah marah walaupun murid-muridnya nakal.

 

Ada cerita mengesankan dengan pak Narto yang masih tertempel erat di otak saya sampai sekarang. Ceritanya begini, suatu ketika ada persami (perkemahan sabtu minggu) di SD saya, dan kebetulan pak Narto adalah salah satu pembimbing pramuka sekolah kami. Kebetulan konon dulunya SD saya bekas bangunan Belanda jadi cerita horror yang beredar di kalangan anak-anak gaul SD banyak banget, hantu ini dan hantu itu. Saat itu waktunya sholat maghrib, saya dan adik kelas saya mau wudhu. Tempat wudhu ada di belakang sekolah, dekat warung yang udah tutup dan searah sama kamar mandi sekolah yang horror sekali. Kok ya kebetulan juga di belakang sekolah nggak ada lampu, lampu hanya ada di lorong kelas satu (satu-satunya jalan yang terang menuju tempat wudhu, kalau jalan lain harus lewat halaman sekolah yang luas dan gelap ;). Jadi lewatlah saya dengan adik kelas saya di lorong kelas satu menuju tempat wudhu, dengan pakaian lengkap pramuka plus topi. Sesampainya di tempat wudhu, terlihatlah sebuah bayangan yang sedang membungkuk, lalu kran air menyala di dekat bayangan gelap itu. Kami tidak bisa melihat dengan jelas siapa bayangan itu, namun yang terlintas di pikiran saya adalah film-film horror yang pernah saya tonton di TV , adik kelas saya mengamit lengan saya dengan erat karena saking takutnya. Saya beranikan tanya dengan badan gemetar anak SD , “Siapa itu?,”. Namun bayangan itu tidak menjawab, membuat saya semakin penasaran lalu mendekati bayangan itu. Di pikiran anak kecil saya waktu itu masa ada hantu lagi wudhu. Adik kelas saya tetap diam di tempat dan berusaha mencegah saya, namun saya semakin berani untuk maju mendekati bayangan itu. Saya lepas topi pramuka saya , lalu saya pukulkan ke bokong (maaf) bayangan itu dengan keras sambil berteriak “Hayo, kamu siapa!,”. Bayangan itu tetap diam, membuat saya semakin takut lalu mundur beberapa langkah. Lalu air kran mati. Bayangan itu mendekati saya, saya semakin mundur, namun saya kira bayangan gelap itu akan menuju ke saya ternyata berbelok ke lorong kelas satu, menuju cahaya, dan terlihatlah pak Narto berseragam lengkap pramuka dengan air wudhu yang masih basah di badan senyam senyum kepada kami berdua yang masih berdiri ketakutan di tempat wudhu, menertawakan kami berdua. Oh betapa malunya saya waktu itu mengetahui bahwa yang saya pukul dengan topi pramuka adalah pak Narto guru saya sendiri, jelas saya beliau diam saja karena sedang wudhu mana boleh bicara. Dengan malu saya minta maaf pada pak Narto dengan diiringi tawa dari adik kelas saya itu. Hehehehehe, maafkan saya ya pak Narto :D

 

Saat menginjak kelas 6 (kalau tidak salah), kami mendapat kabar mengejutkan dari kepala sekolah bahwa pak Narto akan pindah tugas mengajar dan sekolah akan mengadakan upacara perpisahan di lapangan. Tibalah dinyanyikan himne guru, tangis saya dan teman-teman perempuan meledak, kami menangis karena harus berpisah dengan pak Narto guru favorit kami. Tangis kami tetap bertahan saat dinyanyikan lagu pramuka berjudul Sayonara. Upacara perpisahan ditutup dengan beberapa patah kata dan ucapan perpisahan dari pak Narto. Jujur saya sedih sekali waktu itu, saya sayang sekali dengan guru IPA saya itu, dan berat rasanya untuk berpisah walaupun mungkin bisa bertemu kembali, namun rasa rindu diajar IPA dan kesenian dengan pak Narto yang mungkin tidak bisa tergantikan dengan guru manapun saat itu.

 

Terimakasih pak Narto untuk segala ilmu, nasehat dan canda tawa bapak yang saya masih ingat sampai sekarang. Semoga amal bapak diterima di sisi-Nya, maafkan saya pak tidak bisa mengantar ke tempat peristirahatan terakhir bapak waktu itu. Terimakasih ya pak, senyum pak Narto akan selamanya terkenang dalam hati anak-anak didik bapak :)

 

2. Kemudian saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Madiun. Di SMP banyak sekali guru yang baik-baik walaupun tidak begitu dekat sekali. Bu Yolanda namanya, guru IPS baru kami saat itu. Saya lupa saat itu pelajaran geografi atau sejarah ya, saya duduk di kelas 9 SMP dan susunan tempat duduk saat itu adalah berkelompok, bukan duduk berpasangan atau sendiri-sendiri. Hari itu kelompok saya mendapat duduk paling belakang. Saya dan Mei, sahabat saya ngantuk sekali waktu itu, terlintaslah pikiran saya buat sedikit nakal karena catatan saya baik baik semua selama ini (ceilah), saya iseng-iseng menggambar kotak-kotak untuk dijadikan papan ular tangga dan kami membuat dadu dari kertas sobekan buku tulis. Bermainlah kami ular tangga di belakang kelas namun tetap dalam keadaan duduk layaknya mendengarkan pelajaran. Dadu dilempar dengan pelan agar tidak berisik, kami senyam-senyum karena saking asiknya. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, bu Yolanda mencurigai kami yang kadang-kadang menunduk ke bawah karena melempar dadu sehingga dipanggillah saya ke depan.

 

Waduh malunya saat itu, saya udah pasrah deh kalau misalnya dihukum. Saya kan ga pernah nakal kalau dihukum pasti malu banget (hehe). Malu diliatin temen-temen sekelas yang mungkin ketawa-ketiwi diatas penderitaan kami. Ditanyalah saya oleh bu Yolanda kami sedang apa, saya jawab jujur kalau sedang main ular tangga. Bu Yolanda menanyakan mengapa kami bermain saat beliau sedang menjelaskan, saya jawab jujur bahwa kami bosan dan ngantuk. Saya pasrah dan siap menerima hukuman (oya lucunya yang dipanggil saya aja, Mei tetap duduk di tempat (-__-‘;)). Dengan menekuk muka saya kebawah , saya berkata maaf dan menyesal. Saya siap dihukum. Daaaaan….ternyata bu Yolanda nggak marah lho, saya speechless saat itu, terharu dan merasa berterimakasih sekali, saya pikir saya pasti dikasih tugas atau masuk BK. Bu Yolanda hanya menasehati saya agar tidak mengulanginya dan bilang kalau ngantuk lebih baik cuci muka saja.

 

Oh bu Yolanda, terimakasih banyak bu sudah mau memaafkan saya dan dikasih bonus nasehat pula. Saya langsung salim dan mengucapkan terimakasih dan maaf berkali-kali pada beliau kala itu. Hihi makasih bu Yolanda dan maaf ya bu :D

 

3. Tibalah saya duduk di SMA, saya masuk SMA N 2 Madiun, salah satu SMA favorit di kota pecel saat itu (sekarang masih favorit dong , hohoho). Saya duduk di kelas X-D, kami menyebut kelas kami “Semongko Community” (lupa ni nama allay dulu dapat darimana ya :D), kelas pojok deket koperasi dan kantin sekolah (asikk kalau guru belum masuk bisa jajan di kantin dulu, hihi). Kami punya guru fisika yang oke banget deh, galak dan tegas banget sama muridnya, susah banget dapat nilai bagus, nilai 60an keatas yang masih kategori remidi itu aja uda cumlaude di kelas saya yang diraih oleh anak-anak olimpiade dan bintang kelas, hahaha. Dan topik yang susah sekali saat itu adalah vector, entah mengapa materi itu susah sekali masuk ke kepala kami semua, . Sampai-sampai kelas kami bikin band kelas bernama “Vector Never Die” saking terkenangnya dengan pelajaran fisika. Vector Never Die berpretasi loh di ajang band satu sekolah dapat juara 3, hehe berkat keajaiban vector fisika kali ya :D, dan saya minta maaf kepada bapak guru Fisika saya saat itu karena kami walaupun dijelaskan berkali masih nggak mudeng aja hehe, baru mudeng setelah kelas XII karena mau UNAS :D

 

4. Ada satu guru yang kayak motivator, mungkin kalau sekarang mirip pak Mario Teguh, saat itu belum musim bapak Mario Teguh “Golden Ways”-nya itu, jadi belum booming kata motivator di kalangan SMA saat itu. Nama bapak guru tersebut adalah pak Yoyok, guru Bahasa Inggris kesayangan kami semua, ngajarnya asik, banyak guyon, santai dan memotivasi banget buat murid-muridnya agar exchange keluar negeri. Saya paling inget dengan pak Yoyok yang memuji kelas XD karena punya tempat sampah berjumlah dua (ditulisin tempat sampah kering dan basah), dan itu satu-satunya dari sekian banyak kelas di sekolah kami yang punya dua tempat sampah, itu kebijakan saya sebagai ketua kelas saat itu (hahaha, ini narsis banget deh), padahal sebenarnya percuma juga karena waktu dibuang ke tempat sampah besar jadi tercampur lagi walaupun udah dibeda-bedakan begitu (hiks, sedih).

 

Oya pak Yoyok itu semangat sekali kalau cerita tentang luar negeri, beliau pernah exchange ke Australia saat beliau muda dulu dan kalau ada tamu bule ke sekolah kami pasti pak Yoyok jadi garda terdepan sebagai penyambut (hore..we love you pak Yoyok :D). Karena semangat beliau lah yang memotivasi saya sampai kuliah ini untuk tetap percaya bahwa mimpi saya buat sekolah ke luar negeri tetap menyala , walaupun dulu pas SMA gagal lolos AFS (hiks :( mungkin belum rejeki), sampai lulus kuliah saya masih membawa semangat pak Yoyok untuk tetap semangat bahwa suatu saat nanti mimpi saya buat exchange atau riset ke luar negeri bisa terkabul (Amin, kalau Allah mengijinkan dan meridhoi).

 

Makasih banget pak Yoyok untuk ilmu dan motivasi2 bapak, semoga bapak selalu sehat dan sukses karirnya sebagai guru yang merupakan profesi mulia tiada tara. Loves you, pak Yoyok

 

Itulah sekelumit cerita-cerita saya tentang guru-guru saya yang hebat-hebat dan berkesan sampai sekarang.

 

Bagi saya seorang guru adalah profesi mulia sekali, para pahlawan tanpa tanda jasa seperti mereka lah yang amalnya tanpa putus-putus sampai hari kiamat nanti karena ilmu yang mereka ajarkan tersebut, insya Allah, Amin.

 

Terimakasih para bapak ibu guru saya

 

Terimakasih bapak ibu guru seluruh Indonesia

 

Jayalah selalu guru Indonesia

 

Sekali lagi,

 

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2014

:)

Melupakan dan Memaafkan Masa Lalu

Posted by herdhika ayu on November 17, 2014 at 12:10 AM Comments comments (0)

Setiap orang pasti pernah mengalami sakit hati, entah karena hubungan dengan orang yang dikasihinya berakhir, karena ucapan orang lain yang menyakiti hati kita, cinta yang tidak terbalas, bertemu dan berhubungan dengan orang yang menurut kita baik namun ternyata hanya memanfaatkan kita dan bentuk sakit hati lainnya.

Dulu saat saya masih remaja menuju dewasa atau SMA, jujur saya menerapkan metode benci dan menghindar dari orang yang telah menyakiti kita. Menghapus namanya dalam kontak, unfriend orang tersebut dari semua media social saya dan lain sebagainya (hehe, pengakuan dosa). Kemudian usia saya mulai menanjak ke kepala dua, hihi, dan saya sakit hati lagi pada orang yang sama, yang dulu pernah nyakitin saya juga. Dan kali ini saya mau pake cara lain, cara ikhlas dan menerima. Saya nggak menghapus kontak dia lagi dan tetap menjadi “friend” dia di media social walaupun saya harus ngelus dada karena seperti merasakan “nyut-nyut” dan nyeri kalau melihat dia masuk timeline atau home saya. Tapi harus saya hadapi, memang sakit dan jauh lebih susah memakai cara ini daripada cara yang dulu tapi menurut pemikiran saya cara tersebut jauh lebih elegan dan bijak. Kecuali daftar kontak bbm ya, saya merasa bbm adalah hal lebih pribadi dibandingkan media social lain dan saya lebih suka bila daftar kontak bbm saya berisi orang-orang yang saya sukai saja (hehe, nanti deh kalau uda bener-bener sembuh saya add kontak bbm dia lagi dan minta maaf untuk yang ini). Kembali ke cara yang lebih elegan dan bijak dalam menghadapi atau “membenci” orang lain, karena saya sudah pernah pakai cara membenci ekstrim, saya nggak mau pake cara itu lagi karena menurut saya toh saya tetap kembali jatuh ke kesalahan yang sama kedua kalinya dan menimbulkan penyakit hati juga terlebih lagi kedua kalinya sakit hati itu lukanya lebih dalam daripada yang sebelumnya (hehe curhat dikit).

Saya mau menghadapi dia dengan cara yang lebih elegan dan santun walaupun saya harus menelan pil pahit, menarik nafas panjang dan berusaha mengulas senyum untuk berhadapan dengannya, saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan tetap melakukan perbuatan baik walaupun udah pernah sakit hati. Yang harus kita lakukan adalah menerima kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang, misalnya menerima bahwa memang sesuatu tersebut belum bisa menjadi milik kita atau menerima ya kita harus mengalami hal ini kembali padahal sudah pernah mengalaminya tapi itu menunjukkan pada saya bahwa Tuhan ingin menguji saya apakah saya lebih baik dalam menyelesaikan masalah yang sama kedua kalinya. Dan saya ingin membuktikan kepada Tuhan bahwa saya bisa lebih baik dalam menyelesaikan masalah ini, bahwa Tuhan tidak sia-sia menguji saya kembali, insya Allah.

Susah ya? Memang susah dan berat, terkadang saya goyah juga untuk kembali membenci, namun saya selalu ingat bahwa kenyataan ini harus saya terima dengan lapang dada, justru ini akan menjadi ladang amal bagi saya kalau saya dengan berani dan benar melewatinya. Saya akan terus mendoakan dia agar dia menyadari kesalahannya, agar dia bisa keluar dari zona dan keadaannya sekarang, karena saya tahu dia adalah salah satu orang baik yang pernah mengisi hidup saya dan pernah berbuat baik pada saya. Saya berdoa semoga kalau memang Tuhan masih mempertemukan kita kembali, kamu sudah jauh lebih baik dan berubah, dan aku juga akan berubah dalam menyikapi hubungan kita. Aku berhak bahagia dan aku ingin kamu bahagia. Karena Tuhan tahu jalan yang terbaik untuk kita sekarang adalah jalan yang kita tempuh sekarang ini. Semoga dimanapun kamu berada kamu selalu diberi petunjuk oleh Tuhan agar kamu tetap dalam koridor yang benar. Ini caraku menyanyangimu walau kamu mungkin belum bisa memahami dan aku percaya ini cara Tuhan menyayangi kita.

Semoga cara lain yang aku gunakan ini akan memberikan hasil yang berbeda di masa yang akan datang, mungkin hasilnya tidak bisa dipetik langsung sekarang namun aku percaya bila kita berbuat baik maka kebaikan pulalah yang akan kita dapat. Amin

 

Kita pernah dihempaskan cinta, dijatuhkan kenangan, disayat luka masa lalu. tapi kita bisa jatuh cinta kembali. dan bahagia lebih baik lagi. @aksaratua

Saya mengutip salah satu quote yang bagus dari picture Instagram teman saya, begini kalimatnya :

 

Aku hampir saja lupa…
Kamu milik-Nya, bukan milikku sepenuhnya
Aku…hampir saja lupa
Tuhan yang mengatur dengan siapa kita berjodoh
Tetapi dalam doaku aku masih terus menyebut namamu
Jika Tuhan tidak mengizinkan, dan jika waktu tidak lagi mempertemukan kita,
Terimakasih telah singgah
Selebihnya, biar Tuhan yang menulis cerita kita, entah di kertas yang sama atau tidak


7 November 2014

 


Teman yang "Bermanfaat"

Posted by herdhika ayu on November 16, 2014 at 11:05 PM Comments comments (0)

MENJADI MANUSIA YANG “DIMANFAATKAN” ORANG LAIN


Apakah teman-teman pernah mendengar komentar seperti ini :

“Jangan terlalu baik lah sama orang, nanti kamu dimanfaatin lho,”
“Kamu gampang banget sih dimanfaatin, sekali-kali tega, berani bilang enggak gitu,”

Pernah mengalami? Jadi yang “dimanfaatkan” atau yang memanfaatkan? Atau dua-duanya? Hehe :D

Menarik ya? Karena sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun mengalaminya, sebagai orang yang disebutkan diatas. Dulu saya tidak terlalu memikirkan pendapat seperti itu, membantu ya membantu saja, tak pernah berpikir teman ini teman itu memanfaatkan, datang saat butuh bantuan, dan saat kita membutuhkan bantuan dia entah kemana atau tidak perduli dan parahnya pura-pura tidak tahu.

Mungkin karena masih SMA pendapat seperti itu belum terlalu saya pikirkan, lalu saat menginjak bangku kuliah saya bertemu banyak teman dan sahabat, dari berbagai macam karakter dan asal daerah yang tentunya budaya dan adat berbeda, disamping itu bekerja di organisasi yang bertemu dari berbagai jurusan juga menambah wawasan, dan akhirnya saya terpikirkan tentang pendapat diatas lagi.

Jujur saya mengalaminya. Tapi sadarnya bukan karena diri sendiri, setelah diberitahu orang lain. Tapi sebaiknya tidak bersu’udzon ya, mungkin saja teman tersebut tidak bermaksud memanfaatkan tapi memang perlu bantuan. Namun nurani kembali bertanya, “Saat aku membutuhkan bantuannya mengapa saya tidak diperlakukan sama seperti saya memperlakukan mereka?,”

Dan Alhamdulillah kemarin dapat pencerahan, beberapa dari baca buku namun juga dari berpikir dan merenung yang tentunya datang dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

Kalau teman-teman pernah merasa atau baru diingatkan oleh teman kalau “dimanfaatkan” orang lain, bersyukurlah. Ya bersyukur! Itu yang benar. Berarti keberadaan teman-teman bermanfaat bagi orang lain. Sangat bermanfaat sampai dibilang “dimanfaatkan”.

 


Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?

Lebih memilih mana, dimanfaatkan atau malah keberadaan kita ada ataupun tiada sama saja, tidak ada perubahan, masih lebih baik kalau tidak ada perubahan kalau ternyata keberadaan kita membawa perubahan yang buruk bagaimana? Aduh pasti tidak enak

 

Lalu saya berpikir kembali, bila saya yang tersadarkan kalau “dimanfaatkan” orang lain lalu pikiran saya berlanjut seperti ini, “saya udah baik sama dia, kok dia ga balik baik sama saya ya,”, berarti hati kita belum ikhlas membantu, jadi bantuan harus dibalas dengan bantuan begitu? Sudah ditolong harus dibalas dengan pertolongan pula? Istighfar, berarti saya selama ini belum ikhlas menurut pandangan saya.

 

Lantas bagaimana menghadapi teman yang membalas dengan air tuba tersebut? Cara menghadapinya tentu saja tetap dibantu, lalu ikhlaskan lah. Ikhlaskan bantuan kita, dan tidak perlu berharap lebih, berharap saja Allah yang membalas kebaikan kita dengan kebaikan yang lebih baik, ganjaran yang setimpal bukan? Enak dibalas kebaikan sama Allah, kejutan dari-Nya sering tak terduga, dan selalu manis dan berhikmah. Tapi jujur, saya juga masih belajar menghadapinya, kesal dan sebel sih pasti, tapi berusaha itu lebih baik kan, daripada memutuskan acuh dan tidak membantu lagi, kesempatan pahala bisa hilang.

 

Lalu bagaimana kalau membantu lalu kita dirugikan? Waah mikir untung rugi lagi, berarti masih tidak ikhlas, hehe….

Kalau misalnya kita sebenarnya tidak bisa membantu tapi tak kuasa menolak, kalaupun membantu ternyata kita rugi waktu, misal terlambat janji dengan yang lain atau pekerjaan kita jadi tidak selesai?

Waah itu susah ya kadang kita berpikiran seperti itu, tidak tega pastinya. Mungkin ada dua jawaban, pertama tolaklah dengan halus dan jelaskan keadaanmu. Mereka berhak mendapatkan bantuanmu tapi kita berhak menolak juga.

Tapi jawaban kedua nih yang juara:

Tetaplah membantu sebisamu, sebaik-baiknya, dan sambil lakukan kepentinganmu, belajar membagi waktu dan pikiran. Lalu ikhlaskan ya.

Bila kebaikanmu dibalas dengan air tuba padahal kita uda ngasih susu plus madu pula (hehe), maafkan lah yang menyakitimu dan doakan agar ia juga diberikan hidayah-Nya. Amiin. Kalaupun dia sadar Alhamdulillah, kalau enggak juga Alhamdulillah berarti kita diberi kesempatan pahala ikhlas lagi oleh Allah.

 

Kalaupun diulangi kembali bagaimana, sikapnya tidak berubah? Ingatkan saja kalau tidak mau ingat ya maafkan saja dan lupakan.

Yang memaafkan lebih mulia daripada yang minta maaf.

Terakhir, semoga mujarab, doakan.

Memang sepertinya tulisan ini dibuat saja mudah ya, ngomong memang gampang, mempraktikkan itu yang susah. Nah itu tugas kita semua, berbuat sebaik-baiknya dan semampu kita, maksimalkan kita, maksimalkan yang ada.

Dan garisbawahi ya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Semakin dimanfaatkan semakin baiklah kita menjadi manusia



 by : Herdhika Ayu Retno Kusumasari (Hera)*


*penulis adalah orang yang biasa bukan motivator atau ustadzah, masih harus banyak belajar dan beristighfar :D



Malang, Juli 2014


 


 


Keeksotisan Surga Kecil nan Elok bernama Pulau Sempu

Posted by herdhika ayu on February 21, 2013 at 8:30 PM Comments comments (0)

 Sebenarnya cerita ini harusnya diposting sejak lama, fresh from the oven gitu (harusnya), namun maafkan saya yang belum sempat menuliskannya, karena saya ingin mempersembahkan foto foto terbaik dari cerita perjalanan ini (excuse! :D)

Mungkin bahasanya ada beberapa yang formal karena saya copy paste dari karya saya yang dikirimkan ke Jawa Pos (doakan dimuat ya!8)) dengan dibumbui kalimat kalimat khas blog ini.

Yuuuk mari, dibaca !

Ketika kepengurusan dalam suatu lembaga akan segera berakhir, saya dan teman-teman Lembaga Studi Ilmiah Mahasiswa(LSIM) berencana untuk mengunjungi Pulau Sempu yang terletak di Desa Sumber Agung, kecamatan Sumbermanjing, Malang-Jawa Timur untuk mengukir kenangan indah disana. Perjalanan diawali dengan berkunjung ke Pantai Sendang Biru yang dapat ditempuh dengan bus atau sepeda motor, kurang lebih memakan waktu sekitar dua jam lebih. Setibanya disana kami disambut dengan puluhan kapal nelayan yang sedang berlabuh. (Oh indahnya! :p serasa di adegan Endless Love yang di pantai itu, kibaran angin puting beliung [angin sepoi spoi yang benar] menyapa helaian rambut saya)

Apabila ingin menuju pulau Sempu, hanya perlu menyewa kapal nelayan dengan bermodalkan Rp 100.000,00 kami sudah diombang-ambingkan oleh ombak selama 10-15 menit.


Jangan harap perjalanan (mencari kitab suci) ini sudah berakhir, justru ini adalah awal dari menuju salah satu surga kecil pulau Jawa itu. Oh my god, kalian perlu menjelajah hutan cagar alam (yang oke banget buat dicoba) tersebut selama kurang lebih 2 jam untuk menuju tujuan akhir. (sepertinya saya salah pake sepatu dan baju ini, salah perhitungan lebih tepatnya, saya pikir kan main di pantai, mana tau kalau ada menjelajah gunung melewati lembah gini, ya pakai sepatu cewek dan baju terusan rok-celana jins serta tas kecil, sedangkan pejalan kaki lain bawa tas ransel naik gunung dengan pakaian traveller


Alamak we have arrived!


Lelah dan letih itu terbayar sudah dengan suara deburan ombak kecil di laguna nan indah bernama Segara Anakan, pantai kecil yang berbentuk seperti danau karena tertutup tebing-tebing yang menjadi pembatas dengan Samudera Hindia (sumpah ga nyesel deh, yang dilihat itu karang-karang besar yang indah banget, lalu ada yang lubang diantara karang itu dan ombak dari laut lepas masuk menghantam karang).




Tidak puas juga, kami mendaki tebing dan menemukan suatu pemandangan yang memukau mata yaitu birunya laut Samudera Hindia yang dilihat dari atas tebing. Bener bener biru.....sejauh mata memandang yang dilihat adalah birunya laut, laut dan laut (yaiyalah masa tukang siomay, kalau Nyi Roro Kidul masih mungkin ya)


Keelokan Samudera Hindia kami nikmati kembali dengan melanjutkan perjalanan menuju beberapa pantai yang tak kalah eksotisnya. Kira-kira kami mengunjungi 2 pantai yang sepi, hanya kami saja yang ada disana, serasa pantai milik pribadi saja (mungkin begini perasaan orag kaya yang barusan beli pulau!:D) Lautnya benar-benar biru, ombaknya besar, gugusan pulau kecil-kecil nan indah, dan satu lagi pasir yang putih bersih!!!!

Pantai Satu ombaknya cukup besar dan saat memandang serasa waktu ingin berhenti sejenak agar bisa berlama-lama menikmati bau laut , suara ombak yang memecah karang dan pasir yang tersapu oleh ombak.


Lanjut ke pantai 2 (of course kamu harus berjalan kembali menembus hutan, menyibak ranting-ranting pohon dan dedaunan demi mencapainya :P)

OMG! Ini lebih keren lagi karena jarak pandang kita lebih luas, dan di tengah-tengah ada karang (atau bisa disebut pulau ya) yang tertumputi lumut hijau yang rimbun, terpukul ombak yang selalu datang tak diundang. 


 *yaaaak foto diatas diambil dari adegan Meteor Garden III :p*

Sepertinya kami sukses mengukir kenangan indah kami di surga kecil nan elok di Jawa Timur ini. Yuhuuu...


 



Enjoy it!

                            




Alamak ini Enak Sekali!

Posted by herdhika ayu on February 21, 2013 at 7:30 PM Comments comments (0)

Jumpa lagi dengan saya reporter kuliner dadakan paling kece sedunia, kali ini melaporkan tentang salah satu kuliner yang enak di Pulau Jawa, especially Madiun, East Java.

NASI GORENG BABAT  SEMARANG!!! (katanya di madiun, kok semarang? itu asalnya doang, plis dibaca sampe akhir!)

Bertempat di jalanan kaki lima, jalan H.A Salim, depan Rumah bergerbang besar yang nggak tau punya siapa, mampirlah untuk mencicipi rasa nasi goreng yang berbeda ini.

Ini adalah tempat makan kaki lima yang menjadi salah satu favorit saya, yang selalu saya rindukan kalau merantau di kota Malang karena sampai sekarang saya belum nemu rasa nasi goreng seenak dan seunik itu di kota Malang ini. Rogoh kocek anda sekita  7000-10.000 rupiah dan dapatkan menu nasi goreng babat, sambal goreng babat dan nasi goreng ayam dengan ditambah wish kepada bapak nasi goreng rasa pedas, pedas, dan pedas (nggak,maksud saya, rasa pedas atau sedikit pedas). 

Yang sudah pernah saya coba nasi goreng babat dan sambal goreng babatnya saja, karena saya pikir kalau saya pesan nasi goreng ayam mungkin akan terasa biasa saja karena banyak ditemui dimana-mana.

Hanya tersedia malam hari! Mulai jam maghrib sampai malam (gatau sampai jam berapa, sampai habis sih kata bapaknya), dan rasakan sensasi nasi goreng dengan asap yang mengepul dari tiap porsinya, bau bumbunya dan kenyal-kenyalnya babat. Dihidangkan diatas piring yang beralaskan daun pisang, hmmm yummy!

Nggak suka babat? Nggak masalah sisihkan saja babatnya di pinggir daun pisang (dan berikan pada saya), teman teman masih bisa menikmati rasa nasi gorengnya yang nikmat kok :). Memang nasi goreng tidak disajikan di piring langsung namun piring yang dialasi daun pisang lalu datasnya baru deh nasi goreng atau babat goreng.

Tapi jangan gigit jari ya kalau misalnya pas lagi nggak jualan padahal perut sudah drumband ga karuan, karena bapak nasi goreng juga punya kehidupan lain di semarang bersama keluarga istrinya tercinta sehingga bisa saja pas beliau ga jualan (serius ini! saya member nasi gorengnya jadi tau kehidupan pribadi si bapak nasi goreng)

Yuk langsung tancap gas! Serbu nasi Goreng asli Semarang di Madiun punya!

Inih saya beri picture-nya biar jelas :D (maaf ngebluur, karena baru terpikir mau mengungkap kenyataan tentang nasi goreng ini saat mobil sudah melaju) 



Rss_feed