Manusia boleh pandai setinggi langit, selama dia tidak menulis
akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. 
Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer-

buih di lautan luas

Click here to edit subtitle

Blog

Teman yang "Bermanfaat"

Posted by herdhika ayu on November 16, 2014 at 11:05 PM

MENJADI MANUSIA YANG “DIMANFAATKAN” ORANG LAIN


Apakah teman-teman pernah mendengar komentar seperti ini :

“Jangan terlalu baik lah sama orang, nanti kamu dimanfaatin lho,”
“Kamu gampang banget sih dimanfaatin, sekali-kali tega, berani bilang enggak gitu,”

Pernah mengalami? Jadi yang “dimanfaatkan” atau yang memanfaatkan? Atau dua-duanya? Hehe :D

Menarik ya? Karena sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun mengalaminya, sebagai orang yang disebutkan diatas. Dulu saya tidak terlalu memikirkan pendapat seperti itu, membantu ya membantu saja, tak pernah berpikir teman ini teman itu memanfaatkan, datang saat butuh bantuan, dan saat kita membutuhkan bantuan dia entah kemana atau tidak perduli dan parahnya pura-pura tidak tahu.

Mungkin karena masih SMA pendapat seperti itu belum terlalu saya pikirkan, lalu saat menginjak bangku kuliah saya bertemu banyak teman dan sahabat, dari berbagai macam karakter dan asal daerah yang tentunya budaya dan adat berbeda, disamping itu bekerja di organisasi yang bertemu dari berbagai jurusan juga menambah wawasan, dan akhirnya saya terpikirkan tentang pendapat diatas lagi.

Jujur saya mengalaminya. Tapi sadarnya bukan karena diri sendiri, setelah diberitahu orang lain. Tapi sebaiknya tidak bersu’udzon ya, mungkin saja teman tersebut tidak bermaksud memanfaatkan tapi memang perlu bantuan. Namun nurani kembali bertanya, “Saat aku membutuhkan bantuannya mengapa saya tidak diperlakukan sama seperti saya memperlakukan mereka?,”

Dan Alhamdulillah kemarin dapat pencerahan, beberapa dari baca buku namun juga dari berpikir dan merenung yang tentunya datang dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

Kalau teman-teman pernah merasa atau baru diingatkan oleh teman kalau “dimanfaatkan” orang lain, bersyukurlah. Ya bersyukur! Itu yang benar. Berarti keberadaan teman-teman bermanfaat bagi orang lain. Sangat bermanfaat sampai dibilang “dimanfaatkan”.

 


Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?

Lebih memilih mana, dimanfaatkan atau malah keberadaan kita ada ataupun tiada sama saja, tidak ada perubahan, masih lebih baik kalau tidak ada perubahan kalau ternyata keberadaan kita membawa perubahan yang buruk bagaimana? Aduh pasti tidak enak

 

Lalu saya berpikir kembali, bila saya yang tersadarkan kalau “dimanfaatkan” orang lain lalu pikiran saya berlanjut seperti ini, “saya udah baik sama dia, kok dia ga balik baik sama saya ya,”, berarti hati kita belum ikhlas membantu, jadi bantuan harus dibalas dengan bantuan begitu? Sudah ditolong harus dibalas dengan pertolongan pula? Istighfar, berarti saya selama ini belum ikhlas menurut pandangan saya.

 

Lantas bagaimana menghadapi teman yang membalas dengan air tuba tersebut? Cara menghadapinya tentu saja tetap dibantu, lalu ikhlaskan lah. Ikhlaskan bantuan kita, dan tidak perlu berharap lebih, berharap saja Allah yang membalas kebaikan kita dengan kebaikan yang lebih baik, ganjaran yang setimpal bukan? Enak dibalas kebaikan sama Allah, kejutan dari-Nya sering tak terduga, dan selalu manis dan berhikmah. Tapi jujur, saya juga masih belajar menghadapinya, kesal dan sebel sih pasti, tapi berusaha itu lebih baik kan, daripada memutuskan acuh dan tidak membantu lagi, kesempatan pahala bisa hilang.

 

Lalu bagaimana kalau membantu lalu kita dirugikan? Waah mikir untung rugi lagi, berarti masih tidak ikhlas, hehe….

Kalau misalnya kita sebenarnya tidak bisa membantu tapi tak kuasa menolak, kalaupun membantu ternyata kita rugi waktu, misal terlambat janji dengan yang lain atau pekerjaan kita jadi tidak selesai?

Waah itu susah ya kadang kita berpikiran seperti itu, tidak tega pastinya. Mungkin ada dua jawaban, pertama tolaklah dengan halus dan jelaskan keadaanmu. Mereka berhak mendapatkan bantuanmu tapi kita berhak menolak juga.

Tapi jawaban kedua nih yang juara:

Tetaplah membantu sebisamu, sebaik-baiknya, dan sambil lakukan kepentinganmu, belajar membagi waktu dan pikiran. Lalu ikhlaskan ya.

Bila kebaikanmu dibalas dengan air tuba padahal kita uda ngasih susu plus madu pula (hehe), maafkan lah yang menyakitimu dan doakan agar ia juga diberikan hidayah-Nya. Amiin. Kalaupun dia sadar Alhamdulillah, kalau enggak juga Alhamdulillah berarti kita diberi kesempatan pahala ikhlas lagi oleh Allah.

 

Kalaupun diulangi kembali bagaimana, sikapnya tidak berubah? Ingatkan saja kalau tidak mau ingat ya maafkan saja dan lupakan.

Yang memaafkan lebih mulia daripada yang minta maaf.

Terakhir, semoga mujarab, doakan.

Memang sepertinya tulisan ini dibuat saja mudah ya, ngomong memang gampang, mempraktikkan itu yang susah. Nah itu tugas kita semua, berbuat sebaik-baiknya dan semampu kita, maksimalkan kita, maksimalkan yang ada.

Dan garisbawahi ya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Semakin dimanfaatkan semakin baiklah kita menjadi manusia



 by : Herdhika Ayu Retno Kusumasari (Hera)*


*penulis adalah orang yang biasa bukan motivator atau ustadzah, masih harus banyak belajar dan beristighfar :D



Malang, Juli 2014


 


 


Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments